Jujur sebagai seorang alumni_yang karena faktor profesi membuat sy secara pribadi berada dalam lingkaran sosial SMA Negeri 1 Toili_ ada sedikit keprihatinan melihat kondisi para alumni belakangan ini yang cenderung_ini persepsi pribadi_terkotak-kotak pada ruang-ruang "Kelas, Jurusan. Angkatan atau mungkin sekedar Kantin favorit". Kondisi itu nampak dari berbagai status dan komentar di hampir semua social network & grup yang diikuti, yang dicari hanyalah teman sekelas, teman seangkatan, peer groups dan se-se seterusnya.Termasuk sy sendiri. Wajar ketika kita melihat hal itu sebagai sebuah refleksi "kerinduan" terutama yang karena faktor kuliah, kerja dan lain-lain memaksa kita untuk tidak lagi bisa berbagi dengan bebasnya.
Tetapi sudah saatnya untuk merubah kondisi tersebut.
Memantau perkembangan Toili akhir-akhir seakan membuka mata kita. Toili tengah berbenah maju. Toili, jika mengutip pendapat WW. Rostow tentang tahapan perkembangan masyarakat menuju modernisasi, secara perlahan telah meninggalkan tahap masyarakat tradisionalnya. Toili bukan lagi sebuah kecamatan kecil yang terpelosok nun jauh di Sulawesi. Sehingga dengan pesatnya perkembangan kota kita, masihkah kita yang terlahir dari sebuah sekolah terbesar di lingkungan tersebut tetap diam tenang dalam kotak-kotak yang kita ciptakan sendiri???
Tentunya tidak! Ubahlah pola kotak tersebut dengan sebuah pola yang lebih fleksibel sehingga perbedaan kelas, angkatan, jurusan, tempat tinggal, perguruan tinggi dan sebagainya yang akan mewarnai sulaman kita di masyarakat Toili.
Mari kita ikuti pertemuan dalam sebuah ruang tanpa kelas, tanpa batas, tanpa sekat atas nama apapun. Reuni, Temu Kangen dan nama apalah lainnya hanyalah sebuah nama yang dengan nama tersebut kita para alumni mampu menunjukkan dan memberi "sedikit" makna bagi masyarakat Toili yg kita banggakan.
Dan akhirnya hanya ada satu kata : ALUMNI SMA NEGERI 1 TOILI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar